Selasa, 28 Oktober 2014

Jokowi yang Saya Tahu


Sejak tanggal 20 Oktober 2014 kemarin Indonesia resmi memiliki presiden baru. Dialah Ir. Joko Widodo. Melalui drama panjang, mulai dari pencalonan, kampanye pilpres, quick count yang berpolemik, sidang MK yang sensasional hingga isu perintangan pelantikan presiden oleh Hashim, adik capres Prabowo, akhirnya Jokowi-demikian ia biasa disapa-melenggang juga ke Istana.
Saya hendak sedikit bercerita tentang sosok Jokowi dari persepsi pribadi. Saya mulai mengenal sosok Jokowi sekitar bulan Desember tahun 2011 melalui artikel Ultimate U yang diasuh Rene Suhardono di harian Kompas. Artikel tersebut dimuat dalam halaman khusus lowongan kerja yang rutin terbit di harian Kompas setiap Sabtu-Minggu. Umumnya artikel tersebut berisi motivasi untuk meningkatkan produktivitas seseorang.

Pada masa itu memang saya dalam proses mencari pekerjaan baru, jadi membeli Kompas tiap Sabtu menjadi sebuah kebutuhan. Dan selain melihat-lihat kolom loker saya juga menyimak artikel lain, termasuk kolom yang ditulis Bapak Rene tersebut.

Dalam salah satu edisinya Rene bercerita tentang Kota Solo atau Surakarta yang dipimpin Jokowi, seseorang yang ia follow akun twitter-nya. Bapak Rene bercerita ia merasa nyaman melihat Solo sekarang karena rapi dan teratur. Tidak tumpang tindih dengan bangunan mal atau supermarket yang umumnya menjamur di kota yang sedang melakukan pembangunan. Bagi Bapak Rene, Solo merupakan representasi sebuah kota yang seimbang antara budaya dan kemodernan. Solo tidak kebablasan dalam hal pembangunan, yang sering salah dimaknai sebagai upaya membangun gedung-gedung tinggi nan komersil.

Artikel itu jelas memikat saya. Waktu kecil saya bercita-cita menjadi seorang arsitek, dan meskipun tidak terwujud, konsep tata kota selalu membuat saya tertarik. Dan sebetulnya, melihat bagaimana semrawutnya tata kota  Jakarta dan banyak kota besar lain di Indonesia, saya agak skeptis bisakah sebuah kota dirapikan. Tapi membaca artikel Bapak Rene, optimisme saya muncul. Lebih dari itu saya mendadak punya cita–cita baru: jadi walikota suatu hari nanti.

Bisa dibilang saya tahu sosok Jokowi jauh sebelum ia ramai diberitakan saat mencalonkan diri sebagai calon gubernur Jakarta.

Dan sang fenomenal ini kini menjadi Presiden RI ke 7. Bagaimanapun saya pribadi menilai Jokowi lebih cocok menjadi kepala daerah. Hobinya yang suka keluar-masuk kampung atau sekarang dikenal dengan istilah blusukan, agaknya lebih sesuai untuk porsi daerah. Sudah begitu Jokowi juga tidak lancar berbahasa Inggris. Memang bukan syarat mutlak untuk menjadi Presiden RI, tapi cakupan jobdesk Presiden yang lebih internasional, tentunya penguasaan bahasa asing khususnya Bahasa Inggris menjadi nilai tambah yang baik sekali jika tidak bisa dibilang sebuah keharusan.

Tapi seperti saya pernah tulis di laman Facebook, saya memilih salah satu calon presiden tanggal 9 Juli 2014 lalu bukan karena orang ini bagus sekali, tapi karena lawannya yang "nggak banget". Yup, saya mencoblos pasangan urut nomor 2, Jokowi-JK. Maaf Pak Prabowo-Hatta, tapi menurut saya Anda tidak sesuai untuk memimpin negeri ini.

Apa banyak pemilih Jokowi yang seperti saya, memilih pasangan nomor urut 2 ini hanya semata karena agak lebih "mendingan" ketimbang lawannya?

Di antara isu kasus korupsi Transjakarta berkarat, memilih Jokowi yang ditenggarai ikut terlibat sesungguhnya sebuah pertaruhan besar. Seperti sebuah komentar di berita tentang kasus tersebut; Jokowi mungkin tidak mengambil uangnya tapi ia lalai hingga anak buahnya (jika ini benar) bisa main di bawah meja.

Tapi apapun, di pundak sosok inilah 250 juta warga Indonesia menggantungkan harapannya 5 tahun ke depan, Dan terkadang, sosok ini begitu mudah dicintai karena keluguan dan kerendahan hatinya, seperti yang tampak dalam video ini.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar