The Avangers dan Spiderman


Sore tadi gue baru aja nonton film The Avangers : Age of Ultron di Mall Bale Kota Tangerang. Dan selama di dalam studio, gue teringat superhero dari Marvel juga yang filmnya untuk ke sekian kali gue tonton di Trans TV. Yup, Spiderman.


Mestinya gue mengawali tulisan gue dari ringkasan cerita The Avangers. Tapi, sebagaimana kalau nonton film aksi Hollywood, nonton filmnya sekali dan langsung ngerti jalan ceritanya bagi gue adalah sebuah keniscayaan. Hahaha. Inti filmnya sih ngerti, cuma plotnya, kenapa ini begini, kenapa itu begitu, yah... harap maklum, ora mudeng! Lol.

Jadi gue ceritain aja yah inti filmnya. Inti film The Avangers : Age of Ultron adalah upaya sekelompok superhero untuk menyelamatkan semesta. Yup, itu dia! Semua cerita superhero sama aja sih: menyelamatkan kota, menyelamatkan dunia, dan, akhirnya, menyelamatkan umat manusia. Tapi bukan berarti film-film superhero ngebosenin. Tema cerita boleh sama aja, tapi you know lah Hollywood. Kita bakal dibikin "oouhhh", "wooow", "njiir" sewaktu menyaksikan spesial efek mereka yang super duper canggih. Itulah yang gue rasain tadi. Spesial efeknya bikin gue nggak sempet mikir, saking cepetnya adegan per adegan. Sepanjang film gue dibikin memicing, mengernyit dan dag-dig-dug.

Sebetulnya gue nggak banyak nonton film superhero, jadi gue nggak gitu kenal beberapa karakter, pun dengan kelebihan mereka. Gue belom nonton Iron Man 3, Captain America, Thor, dan bahkan Hulk yang udah diputer dua ribu empat ratus tujuh puluh tiga kali di Trans TV aja nggak ketonton sama gue. Tapi selepas dari XXI tadi gue tergugah buat nonton film-film semua superhero itu.

Gue suka semua karakter di film ini. Gue suka Tony Stark alias Iron Man si jenius nyentrik, Captain America yang mengutamakan keselamatan umat manusia, Black Widow yang dinamis tapi rapuh, Thor yang kuat bin ganteng, Hawkeye si family man, dan bahkan si manusia ijo Hulk. Semua karakternya keren. Tapi yang paling bikin gue terkesan itu si Wanda alias Scarlet Witch. Gue suka gerakannya sewaktu mengeluarkan cahaya merahnya yang bikin orang-orang termanipulasi pikirannya. Banyak sebetulnya superhero yang gerakannya kayak dia ini. Seinget gue ada Ultraman sama si Kamehameha. Tapi si Scarlet Witch ini yang bikin gue terkesan. Gerakannya gemulai dan meyakinkan. Ada beberapa film aksi Indonesia yang punya gerakan sejenis yang, maaf banget, keliatan basi dan konyol, tapi si Scarlet Witch ini keren pake banget. Belakangan gue tau kalau yang meranin saudaranya si kembar Olsen.

Dan kenapa sewaktu nonton gue keingetan si Spiderman? Setau gue dalam komiknya si Spidey ikutan jadi anggota The Avangers, tapi setelah nonton filmnya gue ngerasa si labah-labah ini nggak cocok masuk ke dalam tim. Entah sih kalau di film-film selanjutnya bakal nongol juga si Peter Parker. Cuman ngeliat para superhero lain yang wah, wow dan widiw, si spidey tuh apah atuh, cuman labah-labah yang bergelayutan di gedung-gedung New York. Kelebihannya cuma sebatas mengeluarkan jaring dari sela pergelangan tangannya. Nggak ada apa-apanya dari Iron Man yang bisa terbang atau si Thor yang punya godam super.

Bertahun-tahun lalu gue sempet baca sebuah artikel tentang Stan Lee yang lagi ngomongin soal salah satu superhero kreasinya yaitu Spiderman. Dalam artikel itu diceritakan, sebelum "lahirnya" spiderman, Lee memikirkan seorang superhero yang mirip manusia kebanyakan; nggak ganteng, punya utang dan payah dalam urusan cinta. Seperti kebanyakan manusia kan? Dunia sudah punya Superman yang ganteng bin super dan Batman yang tajir mampus, jadi gimana kalau bikin superhero yang cenderung manusiawi?

Lihatlah Peter Parker. Tampang nggak ganteng, malah cenderung cupu. Postur nggak tinggi-tinggi amat. Duit always cekak. Sementara soal urusan cinta, hubungannya up and down sama si MJ. Lalu yang terpenting soal kelebihannya. Nggak ada yang spesial. Semenjak digigit labah-labah super si Peter palingan cuma bisa bergelayutan dari satu gedung ke gedung lain. Cara dia ngalahin musuhnya nggak pake sinar-sinaran yang keluar dari telapak tangan atau dari tameng besi yang super dahsyat. Cukup dengan bela diri dan ketahanan tubuh yang lumayan bertambah semenjak jadi manusia labah-labah. Gitu ajah.

Tapi karena bersifat lebih manusiawi inilah si spidey jadi begitu spesial. Kita jadi lebih mudah bersimpati karena... njiiir, nih superhero kok nyaris nggak super dan malahan mirip gue ya? Dari sekian banyak superhero, Spiderman pastinya jadi salah satu yang paling banyak penggemarnya.

Maka dari itu, terkait sifat kelewat "biasa" si spidey inilah yang bikin gue pikir dia nggak cocok buat gabung di film The Avangers selanjutnya. Tapi mungkin orang-orang studio di Hollywood sana punya pendapat lain?

Plus, yang gue pikirkan selama film ini adalah bahwa film superhero selanjutnya nggak mungkin di bawah kualitas The Avangers dari segi kehancuran dan kejahatan karakter antagonisnya. 

Well, I can't wait!

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini