Senin, 13 April 2015

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini


Jody (Rio Dewanto) dan Ben (Chico Jerico) bersahabat sejak kecil. Keduanya bekerjasama membangun sebuah kedai kopi bernama Filosofi Kopi; Jody mengurus keuangan sementara Ben berperan sebagai barista yang meracik seluruh menu kopi di kedai tersebut. Jody yang bernaluri bisnis selalu berdebat tentang cara menaikan omset dengan Ben. Berbagai ide Jody selalu ditampik Ben. Mulai dari pasang Wifi di kedai, menggunakan gelas kertas untuk penyajian sampai ide pengurangan karyawan. Cuma satu ide yang akhirnya diiyakan Ben yaitu tidak tutup di jam makan siang.

"Iya, sekalian aja buka 24 jam! Biar kayak Starbucks!" seru Ben kesal.

Keinginan Jody untuk menaikan penjualan sebetulnya tak lain untuk mencicil hutang yang ditinggalkan almarhum ayahnya. Total hutang ayahnya 800 juta, sementara harta yang diwariskan cuma berupa bangunan toko kelontong yang kemudian dijadikan Jody sebagai tempat usaha Filosofi Kopi.

Di saat genting akibat dikejar-kejar debt collector itu datanglah seorang pengusaha yang menawari Ben untuk membuat sebuah racikan kopi. Racikan kopi tersebut akan menjadi tender besar si pengusaha dengan seorang konglomerat pecinta kopi. Sebagai imbalan si pengusaha akan memberikan uang sebesar 100 juta. Ben yang tadinya ogah-ogahan akhirnya menyerah. Tapi Ben membuat satu syarat kepada si pengusaha, yaitu untuk menambah angka nol di belakang nilai imbalan alias menjadi 1 milyar! Dan jika ternyata kopi Ben gagal, Ben yang akan gantian memberi si pengusaha sejumlah yang sama.

Jody jelas stres dengan sikap Ben yang semaunya. Niatnya menerima tawaran si pengusaha adalah untuk mencicil hutang, dan kelakuan Ben malah beresiko menambah hutang. Tapi Ben yakin sekali bahwa dia akan menang, dan pada akhirnya bisa melunasi hutang ayah Jody. Sejak umur 12 tahun Ben memang sudah diasuh dan disekolahkan oleh ayah Jody, jadi ia pun merasa ikut bertanggungjawab untuk ikut membayar hutang. Kepada Jody, Ben memberi syarat agar dirinya diberi waktu 2 minggu untuk berkonsentrasi membuat menu kopi serta, jika mereka menang, Ben meminta segala urusan menu di Filosofi Kopi mengikuti gayanya.

Berhari-hari Ben bereksperimen dan membaca buku tentang kopi. Ben juga memaksa Jody membelikannya biji kopi terenak di acara lelang. Dan pergumulan Ben berhari-hari membuahkan sebuah mahakarya yang kemudian diberi nama Perfecto. Filosofi Kopi makin ramai pembeli sejak itu. Jody dan Ben juga yakin sekali bahwa mereka akan berhasil memenangkan 1 Milyar dari si pengusaha.

Tapi kemudian seorang pecinta kopi berlisensi internasional datang ke Filosofi Kopi untuk mengadakan wawancara. Namanya El (Julie Estelle), dan dia sedang dalam proses menulis buku tentang kopi. El sangat kritis tentang penamaan Perfecto, yang diklaim Jody sebagai kopi terenak se-Jakarta, bahkan se-Indonesia. El sendiri cuma berkomentar, "not bad" mengenai Perfecto. Dia bilang kopi terenak yang pernah dicicipinya sejauh ini adalah Tiwus, yang dicobanya di warung kopi sebuah desa.

Ben yang idealis dan merasa sangat ahli tentang kopi coba meyakinkan Jody bahwa komentar El bukanlah apa-apa. Tapi Jody berpandangan lain. Menurutnya bagaimana mungkin si konglomerat yang sudah melanglang buana kemana-mana untuk sekedar mencicipi kopi dari berbagai belahan dunia dapat dipuaskan oleh Perfecto, kalau seorang "food blogger" saja sudah underestimate. Lebih jauh, Jody mengajak Ben untuk mencoba Tiwus. Jody tahu diri, dirinya hanya tahu angka-angka, sementara kopi adalah urusan yang gelap baginya. Jadi Jody meminta Ben untuk ikut mencari kopi Tiwus.

Akhirnya, jalanlah Jody, Ben dan El ke warung kopi Tiwus. Mereka bertemu Pak Seno, seorang petani sekaligus peracik Tiwus. Ia beristrikan seorang wanita Gayo, Aceh-salah satu daerah penghasil kopi yang sudah terkenal. Suami-istri itu kemudian menunjukkan kepada Ben bagaimana memproses Tiwus, mulai dari penanaman sampai menumbuk biji kopi. Semuanya dilakukan dengan sederhana, jauh dari sangkaan Ben yang berkeyakinan bahwa Tiwus diciptakan dengan segala kecanggihannya.

Ternyata kunjungan Ben ke kampung Pak Seno membangkitkan memori masa kecil Ben. Ayahnya yang dulu petani kopi berbalik membenci kopi karena ibunda Ben meninggal akibat lahan kopi yang dialihfungsikan menjadi kebun sawit.

Bagi Jody sendiri, kunjungannya ke kampung Pak Seno, membuatnya mengambil keputusan untuk membawa Tiwus ke Filosofi Kopi. Jody juga akan menyajikan Tiwus untuk si konglomerat. Ben jelas menentang ide Jody itu. Mereka ribut besar, yang berujung Jody mengungkit-ungkit jasa ayahnya kepada Ben; bahwa Ben kemungkinan cuma akan jadi gembel dan tidak akan menjadi barista hebat seperti sekarang jika bukan karena jasa ayahnya.

Ben yang marah kemudian menumpahkan kekesalannya pada El. Namun bagi El, Ben cuma sekedar takut karena kalah saing dengan kopi racikan Pak Seno.

"Kamu bikin kopi pakai obsesi, sementara Pak Seno dengan cinta!" tegas El di depan Ben.

Lagi-lagi akhirnya Ben mengalah. Tiwus dibawa ke Filosofi Kopi dan juga disajikan untuk si konglomerat. Uang 1 milyar berhasil mereka dapatkan. Tapi di tengah kegembiran Jody itu berakhir seiring keputusan Ben untuk berhenti menjadi barista. Ben pulang ke kampung halamannya untuk menemui ayahnya.


Jadi tadi siang gue sama temen nonton Filosofi Kopi di XXI Citraland. Meskipun tertarik buat nonton sejak pertama rilis tapi tadi siang itu bisa dibilang tindakan spontan aja, mumpung lagi ketemuan sama temen. Kursi di dalem teater banyak yang kosong. Mungkin karena masih siang kali ya. Plus lagi musim UN alias Ujian Nasional.

Gue sendiri tahu kalau nih film diadaptasi dari sebuah cerpen Dee Lestari yang dimuat dalam buku kumpulan cerpen dan prosa berjudul sama. Belom lama seorang temen juga mosting foto bukunya di Instagram dengan caption, sebelum nonton filmnya, baca bukunya lagi.

Tapi justru itu yang gue hindari. Iya sih, gue emang nggak punya bukunya. Tapi dengan salah satu cara gue pasti bisa nemuin sinopsis atau intisari ceritanya. Apapun. Sebagai upaya antisipasi sebelum nonton filmnya. Tapi gue nggak melakukan itu. Satu-satunya sinopsis Filosofi Kopi yang gue baca cuma yang ditulis di website cineplex. Selebihnya, gue membiarkan diri gue "buta". Gue pengen tahu apakah gue akan memahami filmnya tanpa membaca review atau bahkan cerpennya. Soalnya kadang-kadang sineas Indonesia gitu; nggak mampu membuat filmnya yang adaptasi atau berbasis novel berdiri sendiri. Dengan kata lain, penonton film yang belom baca bukunya, nggak akan ngerti "maunya" si film.

Dan gue ngerti jalan ceritanya Filosofi Kopi. Mungkin emang nggak bisa dibandingin sama Laskar Pelangi atau Ayat-Ayat Cinta yang berdasarkan novel beratus halaman. Filosofi Kopi diadaptasi "cuma" dari sebuah cerpen alias cerita pendek. Sesaat sebelum masuk teater, gue sama temen gue sempet ke Gramedia, dan di situ gue nemuin bukunya. Gue liat di daftar isi, cerpen Filosofi Kopi memakan kurang lebih 30 halaman. Tapi bener deh, gue cuma liat daftar isi bukunya dan satu kata permulaan cerpennya. Gue udah berniat no information sebelum nonton.

Filmnya bagus, layak ditonton. Akting aktor-aktrisnya oke. Antara Chico dan Rio sama-sama ambil peran separoh, seimbang dalam hal mencuri perhatian penonton. Cuma bagi gue... oh, ternyata si Chico keren juga. Selama ini kan ogah nengoknya. Abisnya dia kan berkutat di sinetron alay Indonesia yang males banget gue tonton. Hahaha.

Tapi tentunya ada beberapa yang miss, kurang pas atau nggak cukup penjelasan. Misalnya soal Julie Estelle. Kalau gue nggak salah analisis (eeeeaaa) sih diceritakan si El berumur dua puluhan akhir. Tapi Julie dengan segala gaya berpakaiannya malah keliatan remaja. Hal yang sama terjadi untuk pemeran si konglomerat. Tebak siapa yang main perannya? Baim Wong! Yang bikin gue... eh, serius nih? Apa iya nggak kemudaan?

Lalu soal uang 1 Milyar yang akhirnya bisa didapatkan Jody dan Ben. Jody bilang sisa dari bayar hutang ayahnya bakal dipakai buat beli tanah di belakang Filosofi Kopi, beli biji kopi terenak dan buat biaya operasi suami salah satu karyawan. Gue pikir... mmm, emang cukup yah buat segala macem itu semua? Semilyar dikurang utang 800 juta tinggal 200 juta, dan duit sisa segitu cukup? Yahhh tapi gue sendiri juga nggak tau berapa meter tanah di belakang, harganya per meternya juga gue nggak tau. Trus kopi terenak juga nggak gue tau sekilonya berapa dan berapa banyak  yang mau dibeli Jody. Terus gue juga nggak tau berapa biaya operasi suami karyawan Filosofi Kopi.

Trus soal masa lalu Ben yang bikin dia trauma agak kurang penjelasan. Tapi gue rasa gini, ayah Ben yang petani kopi menentang penguasa yang bakal mengganti kebun kopinya menjadi kebun sawit. Akibatnya ibunda Ben jadi korban si penguasa supaya ayah Ben mau luluh. Sejak itu akhirnya ayah Ben membenci kopi yang menurutnya penyebab kematian istrinya. Karena kecewa dipukul ayahnya sewaktu menyajikan kopi, Ben akhirnya kabur dari rumah dan lantas diasuh oleh ayah Jody.

Soal hubungan Jody-ayahnya dan Ben-ayah Jody juga gue pikir agak kurang logis. Sesuai penuturan Jody, ayahnya mengatur semua kehidupannya sampai Jody merasa nggak punya jati diri. Tapi uniknya, perlakuan ayah Jody ke Ben justru sebaliknya. Ben disekolahkan sesuai dengan keinginan Ben yaitu kopi. Tapi ini aneh buat gue aja sih, entah pemikiran orang laen.

Trus soal poster. Dengan posisi El dan Ben yang berhadapan serta Jody yang berdiri di tengah mereka sambil mendelik ke arah Ben, bikin gue pikir awalnya ini cerita rom-com alias romantic comedy. Tapi Filosofi Kopi bukan drama percintaan, meskipun awal-awal diceritakan Jody terpesona oleh El, lalu di akhir cerita Ben modusin El (apa mau dibikin sekuelnya nih, untuk menceritakan cinta segitiga di antara mereka?). Filosofi Kopi lebih bertema persahabatan dan hubungan anak dengan ayahnya. Semua pemeran penting di film ini punya cerita masing-masing dengan ayah mereka; Jody dan papinya, Ben dan bapaknya, El dan papanya, serta Pak Seno dengan Tiwus, anaknya.

Dan kalau kita deketin posternya, ternyata di bawah gambar utama ada lagi gambar lain yaitu gambar Jody-Ben dan karyawan Filosofi Kopi. Melihat peran dari karyawan cowok di film yang nggak menonjol sebenernya agak janggal ada gambar mereka di poster. Yang sedikit punya andil di film cuma karyawan cewek, selebihnya cuma sekedar nama-nama yang disebut Jody-Ben di sesi perdebatan mereka.

Tapi segala miss yang gue tulis di atas nggak gitu besar sih. Hal-hal kecil dan mungkin cuma ada di pikiran gue aja. Hahahha. Yang emang beneran miss itu cuma satu menurut gue, yaitu soal ibunda Ben. Jelas-jelas sebelum meninggal ibunda Ben pake kerudungan dan pamitan mau ngaji. Tapi kok kemudian di nisan kubur si ibu ada salibnya? Apa iya gue sekedipan mata ketinggalan sepotong adegan: sewaktu dalam perjalanan ke tempat ngaji, tiba-tiba ibunda Ben dibaptis? Hehehehe. Ini miss, apa gue yang salah ngira itu kuburan ibunda Ben? Toh gue nggak bener-bener merhatiin nama yang tertulis di batu nisan.

Overall, Filosofi Kopi recomended, dan bikin gue teringat  film Jepang karena berkisah tentang suatu profesi dengan segala obsesinya. Komedinya juga menghibur. Adegan yang paling lucu menurut gue pas lagi di acara lelang. Sementara Ben terus maksa Jody pasang harga tertinggi supaya dapetin kopinya, Jody malah sempet-sempetnya ngitung pake kalkulator: mengalikan harga kopi yang pakai dolar ke nilai tukar rupiah. Sebelum filmnya mulai malah ada kartun Adit & Sopo-Jarwo yang kedatangan Jokowi yang lantas menghimbau agar kita semua menonton film Indonesia. Jadi, cabut deh segera ke bioskop. Gue sendiri tertarik buat baca cerpennya dan baca review-an dari blogger lain setelah ini.



nb: pantes nggak sih gue jadi reviewer? Hehehe.










Girl Group Kpop In My Opinion

Right now it’s SNSD, tomorrow it’s SNSD, forever it’s SNSD, I love You. I won’t let you go, Mamamoo. Familiar dengan slogan in...