Dalam salah satu konseling yang dilakukan Byeon Eun-ah di We Are All Trying Here, ia menamai sebuah emosi yang ia rasakan sebagai tindakan merusak diri sendiri alias self destruction.
Dalam salah satu konseling yang dilakukan Byeon Eun-ah di We Are All Trying Here, ia menamai sebuah emosi yang ia rasakan sebagai tindakan merusak diri sendiri alias self destruction.
Niat awalnya cuma cocoklogi, tapi siapa sangka serial "sick" malah udah masuk ke edisi ke empat dalam 3 bulan! Itulah makanya saya mulai berpikir, tubuh saya lebih rentan stres dari yang saya sangka sebelumnya.
Ada beberapa drama Korea yang nggak bikin saya tergerak untuk menulis ulasannya dalam postingan tersendiri. Kadang karena saya drop dramanya di pertengahan atau bisa juga ditonton sampai beres tapi nggak menimbulkan kesan yang khusus buat saya. Kali ini saya mau nulis tiga drama sekaligus. Alasannya? Yahhh begitulah...
Dua puluh empat jam yang lalu saya sedang duduk di jok kereta dengan lengan memeluk erat ransel di pangkuan; merintih dan menahan panas di dalam dada. Heartburn. Setelah berulang kali bloating setelah makan makanan tertentu―kopi terutama―bisa dikatakan kali ini saya resmi punya penyakit GERD.
Setahun berlalu dengan cepat. Kontrak kerja berdurasi 12 bulan sudah sampai di penghujung dalam hitungan minggu. Dari celotehan kolega di sebelah meja, konon bos besar bergeming atas form penilaian saya. Dan itulah yang membuat saya gelisah seharian kemarin.
Apakah manusia masih saling jatuh cinta di jaman sekarang? Jatuh cinta yang terasa mudah namun sekaligus dalam? Jatuh cinta yang membuat kita tidak ingin melakukan apapun selain melindungi orang terkasih? I promise you I am a pragmatic person, but let me tell you something called hope.
Sekitar tiga mingguan yang lalu saya sakit. Kamis dan Jumat terpaksa ijin tidak ngantor. Flu berat dan demam sampai seluruh persendian terasa nyeri. Seninnya saya ngantor lagi. Demam sudah pergi, tapi badan masih belum seratus persen bugar. Sempat mimisan pula di kantor. Plus asam lambung kambuh.
Beberapa kali membaca anjuran kepada orang-orang yang mengidap gangguan kecemasan, stres, hampa, dan gangguan pengelolaan emosi lainnya untuk menulis jurnal. Sementara itu, 13 tahun yang lalu, saya menamai blog ini, dengan kesadaran penuh, Jurnal Novia. Dan memang dimaksudkan untuk menuangkan pikiran, emosi, opini, dan ide-ide secara jujur. Lebih jauh, blog ini adalah medium monolog ketika tidak ada telinga yang bersedia mendengar.
Hari ke-28 bulan Ramadhan 1447 Hijriah. Minggu ketiga sejak Zionis Israel dan US melakukan serangan ke Iran. Per hari ini Ali Larijani, Sekretaris Dewan Keamanan Nasional Tertinggi Iran, dinyatakan tewas di kediaman putrinya dalam serangan Zionis Israel. What a time to be alive!
Hari keempat bulan puasa di tahun ini. Seharusnya saya menulis ini kemarin, di hari ketiga, sesuai dengan jumlah "bestie" yang saya punya. Mengapa ditulis dengan tanda petik? Apakah mereka bukan benar-benar sahabat? Jadi, begini ceritanya...
Kemarin, seorang manajer sales yang baru bergabung sekitar satu bulan, memuji saya pintar dan profesional. Jika boleh sedikit membanggakan diri, gestur-gestur puas dengan pekerjaan saya seperti ini sering saya dapatkan.
Tahun 2025 adalah tentang bertahan hidup. Setahun penuh saya jadi rombongan kereta, yang artinya minimal 13 jam beraktifitas di luar lima hari dalam seminggu. Sembilan jam duduk bekerja di ruangan, lalu empat jam sisanya berdiri sekuat tenaga di gerbong jalur hijau yang penuh sesak setiap rush hour. Tahun ini juga saya terkantuk-kantuk menyelesaikan 2 semester kuliah. Lalu, demi mendistraksi diri dari pikiran negatif dan rasa sepi yang menggerogoti jiwa, saya melarikan diri ke dunia bajak laut!
Satu bulan sejak bencana banjir bandang di Aceh, Sumatera Utara dan Sumatera Barat, korban meninggal masih terus bertambah. Entah korban hanyut yang baru diketemukan, atau pengungsi yang tidak berhasil bertahan dari kelaparan. Seribu lebih orang meninggal akibat bencana siklon tropis senyar yang menyebabkan banjir bandang di desa-desa. Tiga provinsi yang luasnya sudah seperti Jawa luluh-lantak akibat bencana, tapi pucuk negara masih ngotot tidak mau menjadikan peristiwa ini sebagai bencana nasional.
Bulan November kemarin adalah bulan yang cukup sibuk untuk netizen Indonesia. Ada aja kelakuan absurd netizen yang sukses bikin huru-hara lintas platform medsos. Kepala orang lagi pada panas padahal cuaca di luar cenderung sering mendung dan turun hujan. Ehm, termasuk saya juga sih.
Jutek. Satu kata ini terdengar lagi oleh saya sekitar semingguan lalu. Sepanjang yang saya ingat, saya tak pernah marah saat dituding begini. Kenyataannya, saya justru merasa saat ini, jutek is understatement.
Berdasarkan riset singkat yang saya lakukan baru-baru ini, konon Google sudah bukan lagi mesin pencari favorit orang-orang untuk mendapat informasi. Sekarang orang-orang pergi ke media sosial seperti Tiktok atau Instagram untuk mencari keterangan apapun. Sama halnya dengan Blogger; situs menulis gratisan ini pun sudah ditinggalkan. Lagi-lagi karena medsos. Posting tulisan pun bisa di medsos.
Ini adalah Jumat kesekian setelah saya merapal mantra sakral berulang-ulang. Supaya mampu melalui hari-hari yang sangat monoton, saya terus katakan pada diri sendiri: "Akan kuulangi sebanyak yang dibutuhkan."
Baru beres nonton serial Netflix yang rilis 12 September 2025 lalu. Judulnya You and Everything Else. Serial ini saya tandai "Remind Me" di Netflix sejak lihat promonya di menu News & Hot. Vibe dramanya mengena; pedih dan pilu. Judulnya pun estetik. Plus, tentu aja, karena yang main Kim Go-eun.
Bermula dari sopir truk yang mengibarkan Jolly Roger alias bendera tengkorak topi jerami di mobilnya. Lalu berlanjut ke video pengumpulan logistik menjelang demo besar di Pati, Jawa Tengah, yang menggunakan musik latar Overtaken. Huru-hara di bulan Agustus 2025 akhirnya membawa saya untuk mengenal kisah sang bajak laut dari East Blue ini.