Anak Daro di Istano Basa Pagaruyung Batu Sangkar



Sekitar jam setengah 2 siang, gue dan ortu berangkat dari Lembah Harau menuju destinasi selanjutnya: Pagaruyung Palace alias Istano Basa Pagaruyung di Batu Sangkar. Nyokap udah nego sama sopir mobil colt untuk nganter kita sekalian ke Istana. Biaya kesepakatan Rp 400.000, dengan destinasi akhir di rumah adik Bokap di Payakumbuh.
 

Sepanjang jalan lagi-lagi kita disuguhi pemandangan bukit, sawah, pohon kelapa dan... jurang! Iya, jurang. Bukan hal langka lewat di jalan raya di Sumatera Barat dan di kiri atau kanannya langsung mengarah ke jurang. Nama jalan yang tercantum di plang nama restoran di sekitar situ itu Jalan Raya Bukittinggi. Gue bilang ke nyokap, besok agenda jalan-jalan kita ke Jam Gadang di Bukittinggi, jadi kenapa hari ini kita mesti balik ke Payakumbuh segala? Tapi kata nyokap, sebetulnya ini jalannya lain. Mau ke Jam Gadang lewatnya di jalan yang lain lagi.

Setelah kurang lebih 2 jam perjalanan (termasuk rehat makan), akhirnya sampailah kita di Istana Baso Pagaruyung. Situasi nggak begitu ramai. Untuk masuk ke dalam, pengunjung ditarik biaya masuk sebesar Rp 7.000 untuk dewasa, Rp 5.000 untuk anak-anak. Harga segitu berlaku untuk pengunjung domestik. Kalau pengunjung mancanegara tarifnya lebih tinggi.

Karcis Dewasa Domestik

Istana yang kata nyokap gue udah beberapa kali kebakaran itu besar dan tinggi. Desainnya rumah panggung khas Minang dengan atap tanduk kerbau yang disebut gonjong. Dindingnya kayu berukir-ukir. Dan latar belakangnya bukit menghijau.

Ukiran Dinding Istana

Selagi keliling di dalam Istana sambil foto-foto, gue langsung ditawarin ibu-ibu buat nyewa baju adat seharga Rp 35.000. Gue yang emang udah niat mau pake baju adat itu langsung mengiyakan. Tapi sebelumnya gue keliling-keliling dulu di dalem. Di situ menjutai-juntai kain-kain warna genjreng dengan benang emas. Mungkin dulunya tempat duduk-duduk raja-raja. Kalau sekarang interior kayak gitu bisa kita lihat di pelaminan khas Minang. Cantik!

Interior Istana

Di dalem situ juga dipajang benda-benda antik, kayak keris, teko air dan pending berlapis emas. Juga ada patung-patung berpakaian adat Minang.






Penyewaan baju adat adanya di kolong Istana. Di situ ada banyak pilihan warna. Seperti juntaian kain di dalem istana, warna bajunya pun ngejreng-ngejreng: merah, oranye, biru muda, kuning. Katanya sih buat cowok ada juga. Tapi selama di situ gue ga nemuin cowok yang pakai baju adat.

Pakai Baju Adat

Asal tau aja, gue ngerasa gendut setelah pakai baju adatnya. Kainnya beludru tebel, bro! Suntiangnya juga miring-miring. Semuanya serba praktis minimalis, maklum. Dan ternyata, setelah keluar dari "basement", gue baru tau ternyata baju pilihan gue oranye. Padahal gue mau yang merah. Pencahayaan di dalem yang nggak terlalu terang bikin bias, sodara-sodara!

Selagi pakai baju adat, gue dan ortu sampe ke lantai paling atas. Seinget gue ada 3 lantai. Di tiap lantai masih tetap ada juntaian kain berwarna meriah. Dindingnya berukir-ukir seperti di dinding luar. Perabotan seperti meja, kursi, lemari, semuanya serba kayu. Beberapa senapan laras panjang tersangkut di salah satu dinding. Tiap mau meniti tangga, nyokap motret gue. Katanya, "Anak daro (perawan) naik tangga."

View dari Lantai Atas

Salah Satu Bangunan di Area Istana

Setelah puas di lantai atas, gue dan orangtua masuk ke bagian belakang Istana. Semacem dapur kayaknya. Soalnya di situ banyak peralatan tradisional buat masak. Nyokap gue heboh sendiri, "Kayak gitu dapur Mama dulu!" Beberapa alat masih bisa gue identifikasi, kayak lumpang-alu, alat parut kelapa, alat buat memeras santan, centong, wajan, dan tas-tas anyaman. Plussss.... di situ ada juga yang jualan minyak urut!


Papan Keterangan

Dapur Istana

Peralatan Masak Tradisional

Peralatan Masak Tradisional

Alat Parut Kelapa dan Peras Santan
Pas gue keluar lagi, ada beberapa tukang foto yang nawarin jasanya. Gue lirik foto contohnya, bagus juga. Istana keliatan utuh sementara orang yang berpose di depannya keliatan cukup besar. Tapi gue sendiri bawa DSLR, plus gue juga ga tau gimana caranya fotonya dicetak. Masa iya gue mesti nunggu beberapa hari sampe selesai dicetak? Tukang foto keliling jelas udah kehilangan pamornya; sekarang HP masing-masing pun udah ada kameranya.

Makin sore pengunjung mulai banyak. Padahal kalau ga salah denger jam 5 sore, Istana udah bakal ditutup. Tapi untuk moto-moto di depan Istana sih masih bisa kayaknya.

Postingan populer dari blog ini

Film Filosofi Kopi... Sebuah Review dan Opini