Sabtu, 17 Desember 2022

Review Drama Jepang: FIRST LOVE (2022)


Kembali ke "kodrat" buat nonton serial pendek-pendek, kali ini saya nonton dorama Jepang kepunyaan Netflix yang rilis 24 November 2022 lalu. First Love cuma punya 9 episode saja! Dorama ini terinspirasi dari dua lagu fenomenal superstar Jepang, Utada Hikaru, yaitu First Love dan Hatsukoi. Tentang apa drama romens ini?

Minggu, 11 Desember 2022

Review Serial Spanyol: MONEY HEIST (2017 - 2021)



Rekor baru untuk saya yang selama ini hobi nonton serial berepisode sedikit. Kali ini saya nonton serial Spanyol fenomenal, Money Heist, atau dalam bahasa aslinya berjudul La Casa de Papel. Nggak tanggung-tanggung, ada 48 episode yang dibagi ke dalam 5 bagian. Kurang lebih semuanya saya rampungkan dalam kurun waktu 4 minggu. Dan inilah ulasan dan kesan-kesannya.

Rabu, 30 November 2022

MUARA Bagian 3: Distraksi


Ada apa dengan bulan November? Setahun lalu, saya ingat, saya meringkuk dengan perasaan tidak berdaya. November tahun ini... terjadi momentum yang membalikkan meja. Dan semua tidak akan pernah sama lagi. Dunia semakin menggila dan pilihan yang tersedia hanya bertahan.

Sabtu, 19 November 2022

Bertambah Tua


Selamat ulang tahun untuk pemilik blog ini! Rupanya, alhamdulillah, hari ini sangat patut disyukuri. Momen bertambah tua pada hari ini layak dihadiahi postingan berbahagia.

Minggu, 13 November 2022

Peaky Blinders dan Judul Lain yang Tidak Saya Lanjutkan



Tahun 2018, saya pernah menulis sebuah postingan tentang drama-drama Korea yang saya tinggal kabur alias nggak saya tamatin. Pada saat itu saya bekerja paruh waktu sebagai penulis ulasan dan gosip drama Korea, dan untuk beberapa judul yang menurut saya menarik, saya lanjut tonton atas keinginan pribadi. Tapi, ada beberapa judul yang saya tinggal sebelum kelar, dan judul-judul tersebut saya tulis di postingan tersebut beserta alasannya.

Minggu, 23 Oktober 2022

Review Drakor EXTRAORDINARY ATTORNEY WOO (2022)


 

Extraordinary Attorney Woo (EAW) adalah salah satu drama Korea terfenomenal tahun ini. Episode demi episode ratingnya naik terus sampai dua digit. Sejak ramai-ramai jadi pembicaraan di medsos, saya lumayan tertarik tapi menunggu sampai dramanya tamat. Alasan kenapa saya urung nonton on going padahal bisa seru-seruang nge-hype dramanya di Twitter bisa dibaca di sini. Dan omong-omong, EAW sebetulnya sudah selesai saya tonton sebelum Weakest Beast

Senin, 17 Oktober 2022

Review Serial Mini Amerika Netflix: MAID (2021)


Lagi heboh-hebohnya kasus KDRT penyanyi dangdut yang konon memilih rujuk sama suaminya, kini mari kita ulas serial mini original Netflix yang saya tamatin bulan lalu. Judulnya Maid. Berjumlah 10 episode dengan durasi per episode sekitar 47 - 60 menit. Serial yang resmi rilis di tanggal 1 Oktober 2021 ini terinspirasi dari buku memoar berjudul Maid: Hard Work, Low Pay, and a Mother's Will to Survive karya Stephanie Land.

Minggu, 16 Oktober 2022

Review Dorama Jepang: WEAKEST BEAST (2018)


Kebiasaan saya adalah memasukkan serial atau film yang terlihat potensial ke daftar tontonan akun Netflix saya. Lalu nanti kalau mau memulai tontonan baru, tinggal mampir ke daftar tersebut dan cari yang sesuai mood. Yahh, walau nggak jarang juga malah melipir ke tontonan yang nggak ada di daftar. Wkwkwk. Tapi, dorama Jepang yang mau saya ulas kali ini ada di daftar tontonan saya. 

 

Selasa, 04 Oktober 2022

IVE: Konsep & Kontroversi


Setelah sebelumnya bolak-balik dengerin NewJeans, kali ini saya punya grup Kpop favorit baru: Ive! Girl group di bawah naungan Starship Entertainment ini terdiri dari 6 anggota dan resmi debut pada tanggal 1 Desember 2021 dengan single album "Eleven".

Selasa, 13 September 2022

Apa yang Membuatmu Menangis Hari Ini?



Harapan. Bahwa saya jungkir balik berikhtiar demi mewujudkan sebuah harapan. Demi hidup yang lebih baik, tidak, demi penghasilan bulanan yang lebih banyak. Juga karena situasi kantor yang semakin tak tertahankan. Saya dituduh mengadu domba orang. Sejujurnya saya tidak tahu lagi apa yang dibutuhkan untuk menjadi karyawan yang layak. Integritas? Tidak cukup.

Sabtu, 03 September 2022

NewJeans Wants an Attention


Bukan K-drama alias drakor, kali ini mari membahas Kpop rookie bentukan Adore, NewJeans, yang lagi saya suka banget dengerin lagu-lagunya. Girl group ini terdiri dari lima cewek: Minji, Hanni, Danielle, Haerin dan Hyein.

Minggu, 28 Agustus 2022

Review Dorama Jepang: FOLLOWERS (2020)


Ada sebuah quote yang cukup populer, "Di masa depan semua orang akan menjadi tenar sedunia selama lima belas menit.". Tidakkah seperti sebuah ramalan dari masa lalu tentang masa kini? Serial Netflix Original yang mau saya bahas kali ini, Followers, mengisahkan seorang tokoh yang tiba-tiba terkenal seantero Jepang alias viral lalu mendulang ribuan pengikut baru di Instagram. Dorama meriah warna-warni yang punya 9 episode ini disutradarai oleh Mika Ninagawa.

Senin, 22 Agustus 2022

Ulasan Serial Mini Inggris: ANATOMY OF A SCANDAL (2022)


Dulu, waktu pertama kali langganan Netflix, saya lebih suka nonton filmnya ketimbang serialnya. Padahal kalau dilihat-lihat, yang lebih ditonjolkan Netflix sendiri adalah serialnya. Tujuannya tentu agar orang-orang terus berlangganan untuk menonton keseluruhan episodenya. Apalagi kalau sebuah serial dibikin bermusim-musim, wah sudah pasti mesti tetap berlangganan dong.

Minggu, 21 Agustus 2022

Tentang Hal-hal Terbaik


Ada satu dialog di serial Squid Game yang cukup membekas buat saya. Ketika sedang memainkan permainan permen dalgona, seorang peserta mengeluh frustasi sambil menodongkan pistol ke seorang penjaga, "beberapa orang dapat yang mudah, sedangkan yang lain dapat yang susah.". Well, tidakkah terdengar seperti hidup ini?

Review Drama Korea: SQUID GAME (2021)

 

Blog pribadi. Tidak atau belum dimaksudkan untuk tujuan komersil. Walhasil isinya pun suka-suka. Nge-review tontonan pun tergantung mood lagi pinginnya nonton apa. Seperti yang satu ini; hype-nya jelas sudah berlalu sejak tayang perdana tahun lalu, tapi saya baru nonton sekarang, nggak lama berselang setelah Netflix bikin pengumuman kalau sekuel Squid Game bakal tayang di akhir tahun 2023 atau awal 2024. Well, you do you, I do me.

 

Minggu, 14 Agustus 2022

Review Serial Australia: STATELESS (2020)



Stateless adalah serial drama Australia yang tayang di kanal ABC tahun 2020. Di tahun yang sama, hanya selang beberapa bulan, Stateless tayang di Netflix. Serial ini punya 6 episode dengan durasi masing-masing sekitar 60 menit. Cate Blanchett, aktris asal Australia, duduk sebagai kretor sekaligus eksekutif produser dari serial yang sebagiannya terinspirasi dari kisah Cornelia Rau, seorang warga negara Australia yang ditahan secara tidak sah di bawah program penahan imigrasi pemerintah. 

Minggu, 07 Agustus 2022

Review Dorama Jepang: TOKYO TARAREBA GIRLS (2017)


Tiga sekawan yang menginjak usia kepala tiga memutuskan bahwa daripada berandai-andai seumur hidup, mereka akan mencari jodoh yang tepat dan menikah. Demikianlah premis singkat yang dicantumkan Netflix untuk memberi gambaran tentang kisah dorama Tokyo Tarareba Girls. Berjumlah 10 episode dengan durasi masing-masing sekitar 50 menitan, dorama rilisan tahun 2017 ini saya kelarin hanya sekitar tiga harian aja.

Sabtu, 30 Juli 2022

My Own Liberation Notes


Setelah didesak-desak untuk bergabung dengan salah satu klub internal kantor, akhirnya Yeom Mi-jeong memutuskan untuk membuat klubnya sendiri bersama dua orang karyawan lain yang sama introvertnya. Di klub itu para anggota menuliskan hal-hal yang membuat mereka terikat di dalam sebuah buku catatan. Jika saya bergabung dengan Liberation Club, inilah catatan pembebasan saya.

Minggu, 24 Juli 2022

Review Drama Korea: THROUGH THE DARKNESS (2022)



Halo, kembali lagi dalam postingan review drama Korea. Kali ini saya mau mengulas drama kriminal rilisan SBS yang saya tonton maraton di VIU. Judulnya Through the Darkness. Drama 12 episode ini merupakan adaptasi dari buku nonfiksi yang bercerita tentang seorang profiler kriminal pertama di Korea, Kwon Il-yong. Sedikit trivial, drama ini sempat tertunda selama tiga minggu dikarenakan penayangan Olimpiade Musim Dingin 2022. Untunglah saya bukan penonton on going. Kebayang gimana geregetannya nunggu episode lanjutan selama hampir sebulan. Hehehe.

Minggu, 17 Juli 2022

My Own Story of Lady Bird



Hari Kamis kemarin, tanggal 14 Juli 2022, tepat satu tahun Mama pergi. Saya sembuh dari sakitnya lebih cepat dari perkiraan, jika kata sembuh diartikan bahwa saya melanjutkan hidup secara wajar, bisa tertawa lagi dan, tentu saja, bisa menangis lagi.

Minggu, 03 Juli 2022

Review Series Netflix US: THE LINCOLN LAWYER (2022)




So many serials, so little time. Biarpun Netflix di kuartal pertama tahun ini diberitakan kehilangan sekitar 200 ribu pelanggan dan banyak olok-olokan netizen tentang konten aplikasi nonton streaming ini yang mulai membosankan plus suka maksa masukin woke agenda (yang mana saya juga pernah sebel), saya masih menganggap Netflix punya koleksi sinema yang keren-keren. Satu di antaranya adalah series original mereka yang rilis tanggal 13 Mei 2022 lalu, The Lincoln Lawyer. Diangkat dari novel best seller karya Michael Connely, series ini punya 10 episode dengan durasi tiap episode di kisaran 45 - 55 menit. Mari kita bahas!

 

Sabtu, 02 Juli 2022

Review Drama Korea: WELCOME TO WEDDING HELL (2022)


Sudah biasa, daftar tontonannya apa, tapi yang ditonton apa. Contohnya ya drakor Welcome to Wedding Hell ini; nggak masuk daftar tontonan, tapi setelah namatin Monstrous yang seharusnya serem, saya memutuskan untuk ganti ke genre yang lebih ringan. Pas buka Netflix tampaklah poster drama ini. Ya bolehlah dicoba. Dramanya pendek dan berdurasi singkat pula: total 12 episode dengan durasi per episode di kisaran 30 - 45 menit. Kesukaan saya banget serial singkat begini!

Selasa, 28 Juni 2022

Review Drama Korea: MONSTROUS (2022)


Lagi-lagi saya merapat ke sebuah judul gara-gara Koo Gyo-hwan. Setelah sebelumnya nonton Kingdom: Ashin of the Northlalu gigit jari karena doi nongol seupritkali ini saya nonton drama pendek berjumlah 6 episode berjudul Monstrous, di mana Gyo-hwan menjadi pemeran utamanya. Drama ini rilisan TVING, sedangkan saya nontonnya di VIU dengan memanfaatkan konten gratis di bulan Juni 2022. Dirilis tanggal 29 April 2022 lalu, Monstrous ditulis salah satunya oleh penulis film Peninsula yang juga memasang Gyo-hwan sebagai pemerannya.

Minggu, 19 Juni 2022

The Roundup (2022): Simping Over Son Sukku


Meski tagline blog Movienovi adalah "it's still a personal view", tetep saya nggak sampai hati kalau menulis ulasan film The Roundup di sana. Kenapa? Karena alih-alih ngomongin filmnya, saya pasti bakal lebih banyak ngomongin Son Sukku. Hello, welcome to Son Sukku era!

 

Kamis, 16 Juni 2022

Coldhearted



"Mainnya bareng-bareng. Pinjemin mainan kamu ke Putra ya... Jangan pelit-pelit, nanti nggak ada yang mau temenan sama kamu loh." Pernah dengar nasehat orang dewasa ke anak-anak yang seperti ini? Orangtuamu ke cucunya, kakakmu ke anak-anaknya, atau mungkin kamu sendiri pernah melakukannya ke keponakan?

Senin, 13 Juni 2022

Plus Minus Nonton Drama Korea On Going


Kamu tim nonton on going atau nunggu tamat? Konteksnya drama Korea ya. Karena seperti kita tahu sekarang jamannya penonton internasional bisa langsung nonton episode terbaru sesaat setelah tayang resmi di TV negara asal via aplikasi streaming original atau... link haram. Kamu tim mana?

Minggu, 05 Juni 2022

Review Drama Korea MY LIBERATION NOTES (2022)


 

Setelah sebelumnya menulis betapa relatable-nya karakter Yeom Mi-jeong, hari ini saya mau nulis ulasan lengkap dari drama My Liberation Notes yang baru kelar hari Minggu, 29 Mei 2022 lalu. Dan karena saya suka banget sama drama JTBC ini, setidaknya saya mau nulis 2 postingan lagi yang masih terelasi dengan karya Park Hae-young yang juga menulis drama My Mister ini. Postingan kali ini pun kayaknya bakal panjang. Hihihi. Here we go!

Kamis, 26 Mei 2022

Seperti yang Disuarakan Yeom Mi-jeong



Yeom Mi-jeong adalah karakter perempuan di drama Korea My Liberation Notes yang pada saat saya menulis ini masih menyisakan dua episode final. Saya mau bikin tulisan ini selain nanti review-nya karena karakternya sedekat itu sama saya, si introvert. Ahh, blog ini layaknya diary buat saya. Seseorang boleh membacanya karena saya sudah memperhitungkan sejauh apa saya akan menguak isi hati sendiri di sini. Namun, di saat yang sama, saya nggak benar-benar peduli apakah ada yang membaca ini atau tidak. Saya cuma pingin menuliskan hal-hal yang bekecamuk di kepala.

 

Selasa, 17 Mei 2022

Review Dorama Jepang HE'S EXPECTING (2022)


 

Twitter memang secandu itu. Saya sering banget lupa waktu nge-scroll Twitter dan tau-tau aja udah makan waktu dua jam! Kalau sudah begitu suka nyesel sendiri; kalau waktunya dipake buat nonton serial atau film, saya bakal punya bahan untuk nulis ulasan di blog ini atau di Movienovi. Sebuah sesal yang tiada guna karena besok-besok diulangi lagi. Wkwkwk. Makanya saya demen banget kalau ada serial yang episodenya sedikit dan durasinya pendek-pendek. Kayak serial yang bakal saya bahas kali ini. Dorama original Netflix He's Expecting cuma punya 10 episode dengan durasi masing-masing 25 menit aja. Selera saya banget!

 

Senin, 16 Mei 2022

Confidently Lost



Akhir-akhir ini kayaknya saya kurang cukup mengapresiasi musisi-musisi favorit saya di blog ini. Padahal tahun 2019, waktu naksir berat sama karya-karya Baek Yerin dan Niki, saya sempetin buat postingan khusus buat mereka. Ini loh, ada Jorja Smith dan Sabrina Claudio yang pada suatu waktu saya play terus lagu-lagunya. Malah, waktu lagi kecanduan banget, saya kayak nggak bisa dengerin lagu selain lagu-lagu mereka. Secinta itu saya sama penyanyi-penyanyi beraliran R&B ini.

 

Review Serial Mini Korea SOUNDTRACK #1 (2022)



Pecinta drakor pasti nggak perlu khawatir kehabisan tontontan baru. Selain drama-drama yang rilis di stasiun TV resmi di Korsel sana dan beberapa TV kabel, sekarang aplikasi streaming juga rajin bikin drama original eksklusif sendiri. Setelah Netflix, Disney+ juga bau-baunya bakal aktif bikin drama sendiri. Seperti serial mini yang kali ini saya mau tulis, Soundtrack #1, adalah rilisan baru yang cuma bisa ditonton di Disney+.

Minggu, 15 Mei 2022

Lebaran




Setelah dua kali berturut-turut tercekal di perantauan gara-gara Covid, tahun 2022 ini akhirnya masyarakat Indonesia dibolehkan untuk mudik ke kampung halaman. Walau pastinya dalam dua kali momen itu ada yang curi-curi kesempatan dan tetap nekat mudik, 'izin' dari pemerintah tahun ini jelas merupakan sebuah kelegaan. Karena itu, sebagai sebuah momen yang sangat ditunggu-tunggu, banyak yang kepancing begitu ada sebuah cuitan tentang pengalamannya yang never enjoy Lebaran celebration. What a ordinary day on Twitter!

Jumat, 29 April 2022

Dia, Tanpa Saya

Jam lima pagi hari ini saya membuat sebuah keputusan signifikan. Lama sudah saya memikirkan hal ini. Awalnya saya ingin melakukannya nanti. Nanti, setelah muncul satu kali dulu. Tapi, berdasarkan satu momen di pagi ini, saya putuskan untuk mempercepat prosesnya.

Minggu, 17 April 2022

Review Drama Korea: TWENTY-FIVE TWENTY-ONE (2022)



Tontonan, dari negara manapun, memang ampuh sebagai tujuan melarikan diri sejenak dari dunia nyata. Saya sendiri masih suka takjub melihat berapa banyak ulasan serial yang saya tulis di blog ini setiap bulannya sejak Februari lalu. Dan kali ini saya mau tulis ulasan drakor Twenty-Five Twenty-One yang nge-hype banget di awal tahun ini. Saya ngebut 14 episode tepat seminggu sebelum dua episode final tayang demi nggak kena spoiler yang pasti bersiliweran sejagat Twitter. 

Rabu, 13 April 2022

Mengeluh


Sewaktu saya menulis puisi pendek di postingan ini, saya ingat, saya sedang sangat jenuh. Hari ini saya merasakan hal yang sama: jenuh dan merasa terperangkap. Empat tahun dalam pekerjaan yang sama; saya jenuh! Dan isu-isu lain dalam hidup yang membuat saya letih secara fisik maupun batin. Saya sungguh mengharap sebuah kabar baik.

Senin, 11 April 2022

Review Drama Korea Original Netflix D.P. (2021)


 

Saya memasukkan D.P (Deserter Pursuit) ke daftar tontonan sejak kesengsem Jung Hae-in di Snowdrop. Jumlah episode ada 6, dengan durasi per episode 45 - 55 menit. Cincai lah! Drama-drama singkat begini nih kesukaan saya banget. Tapi, seperti kebanyakan penonton, saya nonton D.P. untuk Jung Hae-in, tapi berakhir jatuh hati ke Koo Gyo-hwan. By the way, D.P. diangkat berdasarkan webtoon karya Kim Bo-tong berjudul D.P Dog's Day. Dalam drama, sang komikus juga bertindak sebagai penulis skenario bersama Han Jun-hee, sang sutradara.

Minggu, 10 April 2022

Review Serial Mini AS Netflix INVENTING ANNA (2022)



Sudah niat saya untuk produktif menuliskan semua ulasan serial atau drama yang saya tonton di blog ini. Kali ini bukan drakor atau dorama Jepang, melainkan serial mini original Netflix asal Amerika Serikat berjudul Inventing Anna yang ditulis sekaligus diproduseri oleh Shonda Rhimes. Serial yang terinspirasi dari kisah hidup penipu fenomenal Anna Sorokin dan artikel majalah New York berjudul "How Anna Delvey Tricked New York's Party People" karya Jessica Pressler ini rilis tanggal 11 Februari 2022. Total episode ada 9, dengan durasi tiap-tiap episode di kisaran 59 - 82 menit.  

Selasa, 15 Maret 2022

Review Dorama Jepang KOTARO LIVES ALONE (2021): Kawaiii!


 

Dari sekian banyak film dan serial yang saya masukkan ke Daftar Saya di Netflix, saya akhirnya nyantol ke satu judul dorama Jepang, Kotaro Lives Alone. Premis yang dituliskan pihak Netflix cukup menggugah. Sudah begitu jumlah episodenya cuma 10, dengan durasi per episode di kisaran 25 menit. Kalau ditotal durasi keseluruhannya, dorama yang rilis tahun 2021 ini kayak film 2 jilidcuma 4 jam aja! Tentang apa sih dorama yang diangkat dari manga ini? Yuk, simak ulasan saya!

 

Senin, 07 Maret 2022

Review Drama Korea Netflix ALL OF US ARE DEAD (2022)

 

Mari kita lanjut terzombi-zombi setelah naksir film Train to Busan dan Peninsula. Kali ini bukan film melainkan series original Netflix, All of Us Are Dead yang rilis 28 Januari 2022. Diadaptasi dari webtoon berjudul Now at Our Scholl karya Joo Dong-geun, series dengan 12 episode ini disutradari oleh Lee Jae-kyoo dan Kim Nam-su.

 

Sinopsis Singkat

Sebuah virus merebak di Kota Hyosan. Setelah ditelusuri, virus yang membuat manusia berubah menjadi zombi itu bermula di SMA Hyosan. Seorang guru sains bernama Lee Byeong-chan adalah dalangnya. Virus yang dinamainya Jonas itu mulanya ia ciptakan agar putranya yang menjadi korban perundungan bisa membela diri. Namun tanpa sengaja seorang siswi terinfeksi virus tersebut, yang lantas dengan cepat menularkan ke para siswa lain dan masyarakat setempat.




Beberapa siswa yang selamat dari virus mencoba menyelamatkan diri dari serangan zombi dan menunggu diselamatkan pihak berwenang. Situasi Kota Hyosan menjadi kacau dalam sekejab. Para penyintas berlomba-lomba minta diselamatkan atau mencoba kabur ke kota lain. Namun situasi memburuk dengan beredarnya berita-berita palsu di internet hingga pemerintah setempat memberlakukan status darurat militer hingga memutus jaringan telepon dan internet untuk sementara waktu. Kota Hyosan diisolasi, dan dengan perkembangan situasi yang tak terkendali, memunculkan wacana agar Kota Hyosan dihancurkan. Akankah para siswa yang tersisa dapat selamat dari wabah zombi?


Karakter

Sulit untuk menulis sinopsis drama All of Us Are Dead selain dengan deskripsi umum. Ngomongin detil cerita dan siapa-siapa aja karakter yang terlibat lebih memungkinkan kalau saya buat ulasan ini per episode. Jadi, begini saja, mari kita rinci para karakter dan peran mereka di sini. Mula-mula dari tokoh yang ada di gambar utama postingan ini.



  • Nam On-jo (Park Ji-hu), siswi kelas 2-5 SMA Hyosan. Tetangga sekaligus teman masa kecil Cheong-san. Sebelum wabah zombi merebak, On-jo memberanikan diri menyatakan perasaannya kepada Su-hyeok. On-jo tidak termasuk siswi pintar, dan tidak juga gesit, namun ia memiliki pengetahuan tentang cara-cara bertahan diri di situasi darurat dari ayahnya yang seorang kepala pemadam kebakaran.
  • Lee Cheong-san (Yoon Chan-young), siswa kelas 2-5 SMA Hyosan. Diam-diam Cheong-san naksir dengan On-jo dan selalu mengutamakan keselamatan On-jo. Cerdik, gesit dan setia kawan. Tidak hanya harus menghindari zombi, Cheong-san juga harus menyelamatkan diri dari incaran Gwi-nam yang mendendam kepadanya.




  • Choi Nam-ra (Cho Yi-hyun), ketua kelas 2-5 SMA Hyosan. Cantik, pintar, namun sangat dingin. Nam-ra selalu mengabaikan semua orang dan tidak segan mengungkap fakta ibunya membayar sekolah agar dirinya ditunjuk sebagai ketua kelas. Pada perjalanannya, Nam-ra berbahagia bisa mendapat teman-teman di sisinya. Namun di lain pihak, Nam-ra berubah menjadi setengah zombi akibat gigitan Gwi-nam.
  • Lee Su-hyeok (Lomon), siswa kelas 2-5 SMA Hyosan. Tampan, jago bela diri dan sangat setia kawan. Kekurangan Su-hyeok hanya dua: bau kaki dan pernah menjadi perundung. Ditaksir On-jo namun diam-diam menyimpan perasaan untuk Nam-ra yang selalu dipanggilnya Banjang (ketua kelas).




  • Jang Ha-ri (Ha Seung-ri), siswi senior SMA Hyosan yang sekaligus kakak perempuan Wu-jin. Atlet panahan yang kembali ke sekolah di kala virus merebak karena gagal masuk kualifikasi tingkat regional.
  • Park Mi-jin (Lee Eun-saem), siswi senior SMA Hyosan yang hobi mengumpat dan perokok berat. Bagi Mi-jin tidak ada yang lebih sulit dari ujian masuk universitas. Meski kasar dan pemarah, namun Mi-jin sangat peduli dengan keselamatan teman-temannya.
  • Yang Dae-su (Lim Jae-hyuk), siswa kelas 2-5 SMA Hyosan. Teman baik Wu-jin. Hobinya adalah menyanyi, dan sudah berkali-kali ikut audisi namun selalu ditolak dengan alasan berat badan. 
  • Jang Wu-jin (Son Sang-yeon), siswa kelas 2-5 SMA Hyosan. Teman baik Dae-su dan adik dari Ha-ri. Wu-jin selalu siap menolong dan tidak pernah membiarkan teman-temannya kesulitan sendirian. Memiliki kakak seorang atlet potensial, Wu-jin merasa tidak cukup diperhatikan orangtuanya.
  • Seo Hyu-ryung (Kim Bo-yoon), siswi kelas 2-5 SMA Hyosan. Hyu-ryung berwatak pendiam dan penakut. Teman baik Ji-min.

 

All of Us Are Dead memiliki banyak karakter yang memiliki porsi dan kepentingan masing-masing. Berikut karakter-karakter lain yang turut menyumbang bobot cerita:



  • Lee Na-yeon (Lee Yoo-mi), siswi kelas 2-5 SMA Hyosan yang datang dari keluarga kaya raya. Na-yeon sangat sombong dan suka merendahkan orang lain berdasarkan status sosialnya. Ketika penonton mengira Na-yeon hanyalah seorang karakter egois dan hobi memerintah, gadis ini rupanya mampu berbuat lebih dari itu.
  • Yoon Gwi-nam (Yoo In-soo), siswa kelas 2-1 SMA Hyosan. Anak buah dari grup perundung di sekolah. Gwi-nam berubah menjadi setengah zombi. Tertangkap basah membunuh Kepala Sekolah oleh Cheong-san, motivasi Gwi-nam kemudian adalah memburu Cheong-san.
  • Oh Joon-yeong (Ahn Seung-gyun), siswa kelas 2-5 SMA Hyosan yang gara-gara Nam-ra selalu berakhir di peringkat kedua.
  • Han Gyeong-su (Ham Sung-min), siswa kelas 2-5 SMA Hyosan yang merupakan sahabat Cheong-san. Gyeong-su datang dari keluarga berekonomi rendah. Meski begitu ia disukai teman-temannya. Itulah sebabnya Na-yeon sangat membenci Gyeong-su.
  • Kim Ji-min (Kim Jin-young), siswi kelas 2-5 SMA Hyosan. Teman baik Hyu-ryung. Kehilangan kedua orangtuanya akibat wabah zombi membuat Ji-min menjadi lebih tega kepada siapapun yang mungkin terinfeksi.   
  • Min Eun-ji (Oh Hye-soo), siswi SMA Hyosan yang menjadi korban perundungan Gwi-nam. Eun-ji berubah menjadi setengah zombi. Penampakan Eun-ji yang masih seperti manusia normal namun ternyata berperilaku layaknya zombi membuat pihak berwenang membatalkan penyelamatan para siswa.
  • Kim Chul-soo (Ahn Ji-ho), siswa SMA Hyosan yang menjadi korban perundungan Gwi-nam. Eun-ji selalu berkata Chul-soo sangat penakut, tidak berani memutuskan untuk hidup atau mati.
  • Jung Min-jae (Jin Ho-eun), siswa senior SMA Hyosan yang merupakan anggota klub panahan. 
  • Yoo Joon-sung (Yang Han-yol), siswa senior SMA Hyosan. Teman dari Mi-jin. Terjebak di toilet sekolah bersama Mi-jin saat wabah zombi merebak.
  • Yoon I-sak (Kim Joo-ah), siswi kelas 2-5 SMA Hyosan. Teman baik On-jo.
  • Kim Hyeon-ju (Jung Yi-seo), siswi SMA Hyosan yang pertama kali terinfeksi Virus Jonas.
  • Park Hee-su (Lee Chae-eun), siswi SMA Hyosan yang melahirkan sendirian di toilet sekolah.
  • Lee Jin-su (Lee Min-goo), siswa SMA Hyosan yang merupakan putra Guru Lee. Korban perundungan Gwi-nam dan menjadi bahan eksperimen Virus Jonas oleh ayahnya.


Selain para siswa, All of Us Are Dead tentunya juga memiliki karakter orang-orang dewasa dengan segala kepentingannya.


  • Lee Byeong-chan (Kim Byung-chul), guru sains SMA Hyosan yang menciptakan Virus Jonas. Guru Lee kehilangan kepercayaan pada kemanusiaan dan keadilan ketika kasus perundungan putranya diabaikan oleh pihak sekolah dan kepolisian.
  • Nam So-ju (Jeon Bae-soo), Kepala Stasiun Pemadam Kebakaran Hyosan yang juga adalah ayah On-jo. So-ju selalu berpesan agar On-jo tidak perlu terlalu memusingkan nilai pelajaran, dan cukup hidup dengan sehat serta bahagia.
  • Song Jae-Il (Lee Kyu-Hyung), detektif Kantor Polisi Hyosan.
  • Jin Seon-mu (Kim Jong-tae), kepala tentara yang memimpin operasi darurat militer Kota Hyosan.
  • Park Sun-hwa (Lee Sang-hee), guru bahasa Inggris SMA Hyosan yang sangat peduli dengan murid-muridnya.
  • Park Eun-hee (Bae Hae-sun), anggota dewan Kota Hyosan yang diselamatkan oleh ayah On-jo. Politisi kawakan yang tidak segan memanfaatkan situasi apapun demi menjaring simpati masyarakat.

  

Remaja dan Permasalahannya

Selain mengusung genre zombie apocalypse, All of Us Are Dead juga bertema coming of age. Setiap karakternya membawa isu yang dekat dengan dunia remaja. Mulai dari yang ringan seperti naksir-naksiran teman sendiri, sampai ke isu serius seperti stres dengan tuntutan orang tua, kesepian tidak punya teman, perundungan dan kehamilan yang tidak diinginkan. Bisa dibaca di sini tentang Korea Selatan yang masuk 5 besar negara paling banyak kasus perundungan alias bullying.

Duh, kalau ngomongin perundungan tuh menyakitkan banget. Nggak selalu terkait kekerasan fisik, tapi sesimpel ngumpetin tas seseorang setiap hari atau sengaja menumpuk nampan makan sendiri ke meja seseorang supaya dibawa ke bak cuci pun rasanya pasti nggak enak banget. Serasa direndahkan dan dipermainkan. Tujuan perundungan memang untuk menjatuhkan mental orang lain. Satu hal terburuk di dunia ini menurut saya adalah dihina dan dipukul orang lain tanpa sebab.

Kenyataannya, Guru Lee menciptakan Virus Jonas karena tidak puas dengan penanganan kasus perundungan putranya. Sang Kepala Sekolah tidak mau repot-repot mengurus; baginya nama baik SMA Hyosan bakal tercoreng dengan kasus tersebut. Polisi pun tidak serius menganggapi laporan Guru Lee. Apalagi pelaku, Gwi-nam cs, mengaku hanya main-main alias bercanda. Di sisi korban, melihat orang-orang dewasa tidak berpihak kepada mereka, terpaksa merelakan kasus perundungan mereka berlalu begitu saja. Lebih jauh, korban-korban ini sadar perundungan ke mereka bakal lebih parah jika ngotot ke jalur hukum. Perundungan sesungguhnya terjadi karena adanya relasi kuasa. 


Orang Dewasa dan Kepentingannya

Lanjut tentang Guru Lee, ada satu perkataan karakter ini yang nyelekit banget. Kurang lebih katanya begini, jika kekerasan kecil dibiarkan maka tinggal menunggu waktu sampai kekerasan mendominasi. Si guru sains ini memang sakit hati berat mendapati kasus perundungan putranya diabaikan pihak-pihak yang seharusnya memberi keadilan. Kalau aja Kepala Sekolah dan kepolisian menindak serius kasus-kasus perundungan di SMA Hyosan...

Orang dewasa lain yang mengedepankan kepentingannya adalah Park Eun-hee. Prinsip sang anggota dewan ini adalah jika badai maka mainkan badai, jika berangin maka mainkan angin. Sobat ayah On-jo sampai tercengang tidak menyangka ada manusia yang masih sempet ngurus votes dan citra diri di situasi chaos

 

Remaja dan Orang Dewasa

Setidaknya ada dua karakter yang saya ingat di All of Us Are Dead yang menyatakan sudah tidak percaya lagi dengan orang dewasa. On-jo and the gang cuma kumpulan remaja yang memang seharusnya masih di bawah pengawasan dan tanggung jawab orang dewasa. Mereka punya alasan untuk kecewa ketika penyelamatan malah dibatalkan. Tapi, di lain pihak, orang-orang dewasa mesti mempertimbangkan banyak hal. Mungkin karena sudah dewasa alias tua, saya sendiri menilai On-jo dan teman-temannya seringkali bersikap naif.

 

Karakter Beban

All of Us Are Dead jelas sukses besar dan jadi omongan di mana-mana. Salah satu yang sering dibahas adalah karakter mana yang cenderung cuma jadi beban. Tau sendiri kan drama zombie apocalypse itu pastinya berisi upaya kabur menyelamatkan diri dari serangan zombi. Kalau klemar-klemer alias lamban tentu bakal nyusahin yang lain. 




Sempet rame di autobase drakor Twitter saat ada menfess yang nge-twit kalau karakter On-jo agak terlalu menye-menye buat jadi pemeran utama. Nggak sedikit memang yang berpendapat kalau pemeran utama cewek itu mestinya yang satset-satset alias gesit alias badass. Hmmm, itu salah besar sih. Nggak semua karakter cewek itu mesti jagoan, sekalipun dia pemeran utama. On-jo memang nggak sigap dan cepat. Pun dia juga bukan karakter berotak brilian—sering dapat peringat kelas paling bawah malah. Tapi dia terampil untuk urusan bertahan diri di situasi darurat. Lagipula dia—dan teman-temannya—cuma remaja 18 tahun, mau ngarep setangguh apa sih dari para minor ini??

 

Karakter Terbaik

Pengembangan karakter terbaik menurut saya adalah Nam-ra. Mulanya dia cuma anak pinter yang mengasingkan diri dan cuma tahu belajar. Buat Nam-ra, berteman itu terlalu rumit. Ibunya yang mementingkan kedudukan pasti bakal cerewet memilih dan memilah siapa-siapa saja yang pantas untuk berteman dengan putrinya. Tapi di tengah wabah zombi, Nam-ra mendapati bahwa pertemanan bisa semenyenangkan itu.

Nam-ra adalah karakter terbaik. Jelas. Tapi, karakter yang sebenar-benarnya memenangkan hati saya adalah Mbak Shibal alias Park Mi-jin. Wkwkwk. Saya tesentuh banget waktu Mi-jin tetep ngotot narik gerobak yang mengangkut Joon-sung demi sama-sama terhindar dari serangan zombi. Nyari selamat sendiri nggak ada di kamus Mi-jin. Sewaktu Joon-yeong berkorban menghalau zombi, Mi-jin terdengar sedih banget waktu bilang, "andwe, andwe...". 


Mbak Shibal


Recommended?

Suasana tegangnya dapet, uwu-uwu remajanya juga dapet. Kalau mau point out letak kekurangannya mungkin dari segi logika para karakternya kali ya. Kayak... wah, kuat juga nih bocah-bocah kejar-kejaran, dorong-dorongan, berantem dan lain sebagainya padahal mereka nggak makan berhari-hari. Pun soal pakaian yang kurang terlihat kesinambungannya—abis becek-becekan kok kotornya nggak terlalu berbekas lagi di pakaian? 

Itu aja sih. Di luar itu, All of Us Are Dead sangat saya rekomendasikan. Upaya ngelawan zombinya nggak ngebosenin karena para murid ini pindah-pindah lokasi, dari ruang kelas, ruang musik sampai ruang olah raga. Jadi alat yang dipakai untuk menghalau zombi pun berubah-ubah. 

Yuk, nonton!